Keris Bali Dari Kusamba Merambah Dunia

Sebuah dokumen yang tersimpan di salah satu museum Belanda mencatat bahwa keris Bali dibuat di Desa Kusamba, Klungkung. Saat ini hanya tersisa satu orang pande besi yang masih membuat keris Bali. Dialah Jero Mangku Pande Ketut Mudra pengrajin Keris Budi Luhur.

“Sekitar 20 tahun lalu, ketika saya berusia 50 tahun, saya menggantikan ayah membuat keris. Sebelumnya saya adalah pengrajin emas dan perak. Ketika mengenal cara pembuatan keris, saya mengambil risiko untuk meninggalkan pekerjaan lama saya dan fokus membuat keris.”

Seorang budayawan dari Jerman yang tergerak melihat usaha Jero Mangku menyelamatkan warisan seni budaya meminta Jero Mangku berangkat ke Solo. “Selama satu bulan saya memperdalam ilmu membuat keris pada Empu Subande. Dengan cepat saya menguasai pembuatan keris menggunakan alat modern.” Begitu kembali ke Bali, dengan semangat Jero Mangku membuat keris untuk sang budayawan Jerman.

“Ketika Master Jerman tersebut menilai karya saya sudah memadai, dia membantu mempublikasikannya. Dia menyebarkan informasi ke museum-museum di Bali, kantor Gubernur, media massa seperti Bali Post hingga ke mancanegara.” Kala itu Jero Mangku bisa kedatangan hingga 10 orang tamu per bulan yang minta dibuatkan keris. Karyanya dicari oleh turis dari Eropa, Australia, Asia, hingga Amerika. Sebagian dari turis mempercayai kekuatan trimukti di dalam keris.

Pemesan keris biasanya punya permintaan khusus atas materi yang digunakan. Jenis material inilah yang mempengaruhi harga keris, bisa mencapai Rp 30 juta bahkan ratusan juta jika dibuat sepenuhnya dengan emas. Karenanya Jero Mangku sangat terdampak pandemi yang menghantam pariwisata di Bali. “Sekarang hanya mendapatkan satu pesanan per bulan. Saya sungguh berharap pandemi ini segera berakhir dan pariwisata Bali bisa kembali pulih,” Ujarnya.