Mahalnya Kain Gringsing Bali

Bicara tentang wastra nusantara memang tidak ada habisnya. Kita tentu sudah familiar dengan kain tenun ikat dari Lombok, Flores, atau Sumbawa. Tenun ikat khas Indonesia ternyata masih ada lagi, yaitu kain Gringsing.

Berbeda dari tenun ikat lainnya, Gringsing dibuat dengan cara double ikat dengan pewarnaan alami. Sesuai dengan proses pembuatannya yang lama dan membutuhkan ketelitian, kain yang berasal dari Desa Tenganan Bali ini sangat mahal dan cantik. Penasaran? Yuk kenal lebih jauh tentang kain ini!

Gringsing berasal dari kata Gring yang artinya sakit dan Sing yang artinya tidak. Jadi Gringsing artinya bebas dari penyakit karena dulu kain yang digunakan dalam upacara keagaam di Bali ini dipercaya sebagai penolak bala. Desa Tenganan adalah satu-satunya tempat di Tanah Air yang mengenal cara pembuatan tenun double ikat. Teknik ini hanya ada di tiga negara di seluruh dunia, selain di India dan Jepang.

Tenun ikat double dibuat dengan mempertemukan benang sewarna pada panjang dan lebar kain sehingga membentuk motif tertentu. Teknik ini menghasilkan warna yang lebih tegas ketimbang tenun ikat single yang hanya menggunakan benang panjang kain untuk menghasilkan motif dan warna, sedangkan bagian lebar kain menggunakan benang polos. Motif Gringsing sangat khas, biasanya kotak, lubeng yang dicirikan dengan kalajengking dan yang tersulit adalah motif wayang.

Menurut Kadek Suryati, pengrajin double ikat, saat ini hanya satu dua orang pengrajin saja yang bisa menenun motif wayang. “Penenun harus benar-benar mengerti dengan gambar. Satu helai benang dicocokkan dengan ketelitian agar tidak kacau. Perlu waktu hingga tiga bulan untuk menyelesaikan kian motif wayang yang besar dan waktu pewarnaan hingga 5 tahun.”

Proses pewarnaan memang membutuhkan waktu paling lama. “Pewarnaan kain gringsing menggunakan tiga warna, yaitu merah, kuning dan hitam. Tiga warna ini merupakan simbol Brahma, Wisnu dan Syiwa. Warna kuning didapat dari minyak kemiri, sedangkan warna merah dari akar kayu yang dicampur ke air, keduanya tidak bisa menyatu sehingga butuh waktu lama, benang dicelup lalu disimpan lagi baru menghasilkan warna yang bagus,” jelas Suryati.

Tidak jarang pengrajin gagal meghasilkan kain berkualitas baik. “Lebih banyak gagalnya, hahaha…” Ujar Suryati. “Kadang-kadang mau ditambah warna merah bukannya bagus malah warna hitamnya hilang karena luntur terbawa air. Biasanya pengrajin baru mengerti teknik pencelupan setelah berhenti sekolah, karena itu banyak yang baru mulai menenun ketika mau lulus SMA.”

Menenun juga perlu jam terbang. “Pengrajin yang masih baru benangnya sering bergeser.” Inilah yang menjadikan setiap helai kain Gringsing memiliki harga berbeda. “Setiap kain akan bicara sendiri dari segi usia kain dan kualitasnya. Ada yang dari segi warna bagus tapi tenunnya kurang bagus. Ada pula yang tenunnya rapi tapi warnanya kurang tegas. Kain yang dibuat menggunakan benang handmade asli Bali harganya sampai tiga kali lipat kain yang menggunakan benang pabrik,” urai Suryati.

Untunglah masih banyak perempuan Tenganan yang mau menenun sebagai mata pencaharian. “Sekarang ini pengrajin lebih suka membuat kain ukuran kecil karena membuatnya lebih cepat dan cepat pula menghasilkan uang—biasanya mulai dari Rp 2 juta. Satu minggu cukup menghasilkan selembar kain. Hasil penjualan bisa dipakai mencukupi kebutuhan hidup satu minggu,” jelas Suryati. Keindahan Kain Grisngsing kini semakin dikenal. Banyak calon pengantin menggunakan kain ini untuk foto pre wedding. Semakin luas penggunaannya, semakin besar pula kemungkinan warisan budaya Tanah ini dilestarikan.