Melirik Cendera Mata Gagah dari Bogor

Bisa jadi Anda hanya mengenal Kujang sebatas ikon kota Bogor. Padahal sejarah mencatat Kujang sebagai senjata zaman Kerajaan Sunda yang kini masih dibuat untuk dijadikan pusaka sampai cendera mata.

Hanya segelintir orang memiliki kemampuan membuat kujang. Guru Teupa adalah sebutan pengrajin Kujang yang saat ini diberikan pada Wahyu Afandi Suradinata, berusia 69 tahun.

Abah Wahyu mendapatkan ilmu membuat Kujang dari guru budayanya pada tahun 1995. Awalnya Abah Wahyu membuat kujang sebagai hobi, profesi utamanya adalah menjadi guru teknik di sekolah swasta.

“Mulanya saya membuat Kujang dan memberikannya secara gratis pada orang yang tertarik memilikinya. Setelah lima tahun, saya ditegur oleh guru budaya saya. Kujang bukanlah barang sembarang, haruslah dihargai sebagai warisan leluhur. Pemegang kujang juga bukan orang sembarangan, melainkan hanya orang tertentu. Guru menyarankan saya untuk meminta upah atas setiap Kujang yang saya buat,” kenang Abah.

Harganya pun sudah dipatok tergantung banyak matanya. Semakin banyak mata Kujang semakin mahal harganya. Sesuai dengan sejarah Kujang yang paling banyak mata (paling banyak 9 mata) adalah milik raja. Selain itu 10 persen dari harga jual Kujang harus diberikan pada orang yang membutuhkan. Abah Wahyu memberlakukan aturan tersebut hingga saat ini. “Jadi, setiap pemegang kujang sudah memberikan jatah untuk orang yang tidak mampu,” ujarnya.

Di tengah pandemi ini, permintaan Kujang untuk suvenir atau aksesoris, seperti pin menurun tajam. Abah Wahyu sampai harus merumahkan tiga pegawainya. Sebaliknya permintaan Kujang untuk dijadikan pusaka justru meningkat. Sebelum pandemi Abah Wahyu hanya mendapat hanya 2-3 pesanan Kujang pusaka dalam seminggu. Sekarang sampai 10 pesanan, padahal untuk membuat Kujang Abah harus berpuasa. “Saya hanya membuatnya pada hari Senin dan Kamis. Ini cukup membuat kewalahan,” cerita Abah.

Sebagai barang pusaka tentu ada keunikan tersendiri dari Kujang. Abah Wahyu membuat setiap Kujang Ageman atau Kujang yang dijadikan pegangan yang melindungi oleh pemiliknya berbeda untuk setiap orang. Kujang mata 9 hanya boleh dibuat dua dalam setahun khusus untuk pandita dan pejabat negara. “Bila yang memesan masyarakat biasa, saya membuatkan bentuk ujung Kujang sesuai dengan profesi. Sementara hari lahirnya menentukan pamor atau ukiran pada Kujang, ” jelas Abah. Bisa jadi keunikan inilah yang membuat Kujang tak pernah kehabisan peminat hingga sekarang.