Melirik Kembali Lukisan Tradisional

Lukisan merupakan salah satu kebanggaan seniman dari Pulau Dewata. Sayang, lukisan indah yang dihasilkan lewat goresan bambu muda kini sudah tak lagi menjadi daya tarik para wisatawan. Di tengah pandemi, Tim We Love With Love mengunjungi seorang maestro lukisan flora dan fauna di Pengosekan, Ubud untuk mendengarkan suara hatinya.

Beliau bernama I Dewa Putu Sena. Di usia 77 tahun, beliau sudah menghasilkan ribuan karya lukisan tradisional Bali yang dilukis tidak hanya menggunakan tinta tapi juga goresan bambu. Telah melukis selama lebih dari 50 tahun dimulai dengan lukisan adat istiadat di Bali, seperti upacara Ngaben.

Pada tahun 1980an, Putu Sena kedatangan seorang tamu dari Jerman. Sang tamu yang mengagumi karyanya meminta Putu Sena melukis flora dan fauna. lalu mengajak teman-temannya datang untuk melihat dan membeli lukisan Putu Sena. Inilah awal mula lukisan sang maestro dikenal sampai ke Eropa, Amerika, dan Jepang.

“Ketika itu masih banyak orang datang melihat saya melukis. Saya pun melukis dengan semangat. Ketika hati senang, saya akan melukis dari malam hingga pagi hari. Saya selalu siap melukis apa saja permintaan tamu,” Kenangnya. Pada masa itu banyak pula anak-anak tertarik belajar melukis pada Putu Sena. Di halaman rumahnya Putu Sena bisa mengajar hingga 40 anak, termasuk dua keponakannya, I Dewa Putu Gede Arta dan I Dewa Gede Merta Yasa yang kini melanjutkan warisan sang paman, melukis secara tradisional.

Masa keemasan itu menurut Putu Sena telah memudar. Kini tidak ada lagi orang yang datang melihatnya melukis. Lukisan pun tidak lagi dihargai dengan sepatutnya. “Banyak tamu menganggap harga lukisan tradisional terlalu mahal. Mereka tidak memahami bahwa untuk menyelesaikan satu lukisan kecil saja memerlukan waktu hingga satu bulan, sedangkan untuk satu lukisan modern hanya butuh 5 hingga 7 hari,” ujar Gede Merta Yasa yang kini berkreasi membuat lukisan modern dengan harga lebih terjangkau.

Tim We Love With Love tergerak untuk memperkenalkan nilai lukisan tradisional Bali yang sesungguhnya. Betapa satu lukisan memerlukan tahap pengerjaan yang rumit dan membutuhkan ketrampilan yang saat ini sudah mulai langka. Anda bisa ikut menyalurkan bantuan lewat Yayasan We Love With Love baik berupa dukungan, dana, membeli, ide marketing, maupun menyebarluaskan informasi ini. Mari membantu seniman lokal sambil melestarikan kesenian tradisional di masa pandemi ini.