Menggeliatkan Seni Tari

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Darah seni yang mengalir dalam Made Musium, seorang pengrajin topeng di Gianyar Bali mengalir pula dalam sang anak, Komang Adi Pranata, seorang koreografer dan penari andal. Tidak hanya saling mendukung dalam hal berkarya, ayah dan anak ini juga bersama-sama membangun komunitas Manubada, yaitu komunitas pekerja seni yang kokoh dan kuat.

Membuat topeng sejak tahun 1963, Made Musium memotivasi anaknya untuk menekuni dunia tari. “Awalnya saya merasa enggan, tapi karena dorongan bapak saya mencoba ikut kelas menari di sanggar. Ternyata saya menemukan passion saya di sana.” Komang bahkan jatuh cinta pada seni koreografi dan menciptakan banyak tarian.

“Saya berkeliling desa-desa di Bali dan terjun ke masyarakat untuk mendalami karakter-karakter masyarakat. Dari sana saya bisa menciptakan tarian, baik untuk festival, tarian maskot desa, atau tari kebesaran,” Ujar Komang pada tim We Love with Love yang berkunjung. Pada tahun 2013, Komang mulai membangun komunitas penari. Ia merasa yakin komunitas tersebut akan menjadi besar selama anggotanya konsisten berkarya.

“Kami memulai dengan modal nol. Tidak ada dana untuk membuat kostum ataupun memproduksi karya mewah.” Saat itu Made Musium yang mendukung penuh niat Komang memberi topengnya untuk dipakai. Gayung bersambut, sejak itu topeng dirasakan sesuai dengan tarian komunitas Manubada. “Topeng menjadi identitas kami hingga saat ini,” ujar Komang.

Pandemik membuat Komang kebingungan dan stres karena semua jadwal pertunjukan di event tahunan dibatalkan. “Namun saya dan komunitas merasa harus terus berkarya. Kami lalu berkolaborasi dengan teman-teman dari seni visual membuat tarian virtual yang sebelumnya tidak pernah ada di Bali. Tanpa panggung konvensional, kami tidak hilang akal. Kami menari di pantai dan hutan. Tarian kami tayangkan di instagram. Ternyata yang menonton lumayan banyak. Pemerintah juga mengapresiasi dan memberikan dana.”

Dana tersebut diakui Komang habis hanya untuk biaya produksi tarian, merekam dan menayangkan secara virtual. Namun Komang optimis setidaknya ia dan komunitasnya bisa tetap berkarya dalam situasi sekarang ini. Ia sangat terbuka untuk tawaran menampilkan tarian virtual.

“Penampilan selama 7-20 menit dengan 5 hingga 7 penari bisa kami produksi dengan harga Rp 10-15 juta. Tapi biaya itu di luar dari biaya untuk melakukan live streaming,” ujarnya. Anda yang rindu ingin menyaksikan tarian khas Bali dan mendorong eksistensi para pekerja seni, Anda bisa menghubungi tim We Love With Love untuk menyalurkan dana ataupun meminta tayangan tari virtual pada Komang Adi dan Komunitas Manubada.