Ni Ketut Arini Hidup untuk Menari

Senyum selalu tersungging di wajahnya yang ramah. Tubuhnya ramping dibalut kain dan kebaya khas Bali. Di usia 77 tahun Ni Ketut Arini masih tampak energik. Lahir dari keluarga Seniman, Arini kecil merasakan panggilan jiwa untuk menari dan menjadi guru tari.

Ia merasa terpesona saat melihat pamannya menari. “Saat om tiba di tempat latihan, saya pasti sudah ada di sana duduk menonton bagaimana dia bergerak, kadang-kadang membawa kayu menarik sekali,” kenangnya. Ketika sang paman mengendus minat Arini, ia mengajak Arini belajar menari sekaligus mengarahkannya cara mengajar tarian.

Saat berusia 14 tahun, Arini diminta mengajar tarian Desa Besakih di Karang Asem yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. “Saya takut dan ragu tapi karena ayah yang meminta saya tidak berani menolak.” Sejak itu ia tak lagi terpisah dengan kelas tari. Pada siang hari Arini mengajar tari di sekolah, sore ia mengajar sanggar tari dan malam hari ia sendiri pun menari untuk pementasan.

Tantangan terbesar datang ketika tiga perempuan asing dari Amerika meminta Arini mengajarkan mereka menari. “Waktu itu saya berpikir bagaimana mengajarkan hitungan gerakan tarian pada mereka. Saya coba satu cara gagal, coba lagi yang lain juga masih tidak bisa. Saya terus berpikir dan akhirnya berhasil. Itu membuat saya lebih percaya diri dan semakin banyak murid dari Eropa hingga Afrika mencari saya untuk belajar menari.”
Dalam perjalanannya mengajarkan tarian Arini sudah membuat buku tentang teknik menari bali, ia juga pernah diminta mengajar Grup Sekar Jaya di Amerika yang anggotanya adalah warga Amerika yang ingin berlatih menari Bali. Selama 10 tahun Arini pulang pergi Amerika, enam bulan di Amerika dan enam bulan di Bali.

Hingga kini semangatnya untuk terus mengajarkan tarian Bali tetap berkobar, bahkan selama pandemi Arini masih mengajar anak-anak muridnya secara online. “Saya berusaha menggunakan semua kepintaran saya untuk seni tari. Saya merevitalisasi tarian klasik. Saya selalu bersedia membantu anak-anak muda yang datang ke saya minta belajar menari untuk bertanding. Asalkan mereka berjanji untuk terus berlatih sampai bisa.”

Dalam perbincangan singkat dengan Tim We Love With Love, Arini menegaskan bahwa tarian adalah warisan leluhur yang harus terus dilestarikan oleh generasi muda. “Saya adalah bukti bahwa seni tari bisa menjadi sumber pendapatan yang menjanjikan. Anak-anak muda tidak perlu takut untuk menekuni dunia seni tari.” Tegasnya.