Tak Lelah Mencari Celah di Tengah Pandemik

Tidak mungkin bertahan sendirian melawan pandemik. Prinsip Putu Agus Aksara Diantika  pewaris kedua Dian’s Rumah Songket & Endek ini telah menolongnya mempertahankan usaha di tengah lengangnya pariwisata Bali. Pada bulan Maret ketika penjualannya turun drastis, Agus benar-benar resah. Ia tidak tahu bagaimana caranya bisa terus mempekerjakan karyawan dan pengrajin yang sudah lama bergantung nafkah dari butiknya.

“Bermalam-malam saya tidak bisa tidur,” ceritanya pada tim WeLoveWithLove yang datang mengunjungi untuk memberi support pada Agus. “Sebenarnya kalau mau gampang saya bisa saja memberikan sembako 25 kg, lalu merumahkan semua pengrajin, tapi saya tidak tega,” lanjutnya. Agus kemudian menelepon semua kolega dan temannya sesama pengusaha dan influencer—termasuk Niluh Djelantik untuk berkolaborasi. Muncul ide membuat masker yang kemudian laris manis. “Masker Niluh Djelantik semuanya memakai kain endek saya,” ujar Agus sambil tersenyum.

Agus lalu memutar otak lagi untuk mencari cara menjual kain songketnya. “Kali ini saya terbantu oleh teman-teman pemilik hotel. Saya membuat strategi pemasaran bahwa semua pembeli songket boleh menggunakan promo code saya untuk berbulan madu di hotel teman-teman saya.” Tidak hanya penjualan Dian’s Songket yang terbantu tapi juga para pemilik hotel yang mendapatkan tamu.

Berkat kegigihan Agus, hingga kini bisnisnya masih bisa bertahan berproduksi tanpa merumahkan satu orang karyawan pun.

Di usianya yang masih muda, semangat juang Agus sangat menginspirasi. Ia kreatif mencari celah untuk melestarikan bisnis ‘kuno’ hasil warisan leluhurnya. Agus mengaku kecintaannya pada Songket dan Endek Bali memang tidak lahir begitu saja. Seperti anak muda Bali pada umumnya, dulu ia lebih tertarik pada bisnis pariwisata dan bercita-cita memiliki hotel. Ia menolak menjalankan bisnis songket yang telah dirintis orangtuanya di Klungkung.

“Satu kali saya mendapat tugas kuliah menceritakan usaha yang ada di daerah masing-masing. Kebetulan saya mengangkat endek yang bukan usaha orangtua saya. Eh, ternyata saya dipanggil oleh dosen mata kuliah tersebut dan beliau meminta saya membuatkan seragam para dosen.” Sejak itu Agus tidak pernah lagi berhenti menjual kain endek dan songket.

Banyak kesulitan sudah Agus alami dan tantangan terbesarnya saat ini adalah melakukan regenerasi pengrajin songket dan endek. Tidak banyak anak muda mau melirik profesi ini. “Profesi ini memang tidak bergengsi, namun saya meyakinkan mereka bisa mendapat upah setara dengan karyawan hotel.” Pendekatan ini yang terus saya lakukan sambil terus menjaga upah karyawan saya tetap bersaing.

Agus bercerita bahwa jika sebelum pandemik ia kesulitan mencari tenaga kerja, kini banyak sekali orang datang mencari pekerjaan padanya. “Sayang sekali saya belum bisa menerima mereka karena bagaimana pun dana saya terbatas untuk menggaji karyawan,” ujarnya. Anda ingin membantu para pencari kerja ini. Salurkan dana, ilmu, atau apapun bentuk sumbangan Anda lewat Yayasan WeLoveWithLove di www.welovewithlove.com.