VCO Desa Selumbung

Siapa yang tidak kenal VCO atau Virgin Coconut Oil. Menurut Wikepedia, VCO adalah modifikasi proses pembuatan minyak kelapa sehingga dihasilkan produk dengan kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan.

Kali ini cerita mengenai pelaku usaha VCO dari desa Selumbung, kecamatan Manggis, kab. Karang Asem, Bali, Bapak Nengah Widana yang merupakan generasi ke-3 di usaha keluarganya yang tidak jauh dari buah kelapa. Beliau meyakini kelapa di desa nya berbeda kualitasnya dengan daerah lain.

Untuk itulah Pak Nengah yang juga seorang pamangku di desanya, sangatlah mensyukurinya dan dengan tulus berdoa agar pemberian Sang Maha Kuasa ini yang diolahnya menjadi VCO dapat dinikmati dan berguna bagi orang banyak.

Dalam situasi pandemi covid 19 ini, beliau juga berusaha bertahan dengan caranya. Beliau mengajak pengunjung atau pembeli produk VCOnya sekaligus menikmati potensi keindahan alam desanya di Bukit Soksokan. Tempat ini memang masih dikembangkan bersama ayah dan adiknya. Di tempat tersebut kita bisa melakukan tracking, camping, meditasi dan tentunya bisa ber swa foto dengan hamparan pohon kelapa yang sangat luas dan juga view laut lepas dengan kapal-kapalnya yang berlabuh di Padang Bay.
Mari kita simak usaha, tantangan dan harapannya, siapa tahu sahabat We Love With Love dapat membantu mewujudkannya. Aamiin.

Hasrat Membesarkan Virgin Coconut Oil dari Desa Selumbung

Penyakit kolesterol tinggi membawa Nengah Widana tak kenal lelah mencoba membuat Virgin Coconut Oil (VCO) tiga tahun lalu. Ia merasa cukup mengonsumsi obat-obatan medis dan ingin beralih ke pengobatan alami. Lewat membaca literasi, ia tahu bahwa VCO bisa mengatasi kolesterol.

“Namun saat itu saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang cara membuat VCO tanpa pemanasan. Saya lalu mencari tahu dari internet dan Youtube.” Kenangnya.

Berkali-kali mencoba dan gagal, Nengah tidak menyerah. Hingga satu kali ia bertemu dengan seorang kolega dari Yogyakarta yang sedang kuliah pariwisata di Prancis dan berkunjung ke Desa Selumbung. “Saya meminta masukan darinya tentang cara membuat VCO yang benar karena kebetulan ia mengerti tentang VCO. Saya coba produksi dengan cara tersebut dan saya berkeyakinan bahwa inilah produksi VCO yang paling benar.”

Desa Selumbung, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karang Asem, Bali memang terkenal sebagai penghasil kelapa. Di desa ini terdapat 360 hektar kebun kelapa dengan hasil kelapa yang sangat baik. Nengah sendiri memilih langsung kelapa-kelapa yang ia pakai untuk membuat VCOnya. “Saya hanya memakai kelapa yang sudah kering di pohon dan yang betul-betul sehat. Kalau ada tanda-tanda mulai membusuk tidak akan saya pakai,” jelasnya. “Kelapa yang belum kering di pohon saya jadikan minyak kelapa untuk masak. Ini adalah VCO grade dua.”

Keunggulan bahan baku pembuatan inilah yang menjadi keistimewaan Selumbung VCO yang hingga saat ini masih diproduksi dengan cara tradisional. Selain itu, Nengah memiliki filosofi sendiri. Ia selalu berdoa memohon kekuatan alam agar produknya bermanfaat bagi yang mengonsumsi. “Setelah VCO jadi, kami selalu mengucap syukur pada alam semesta dan Sang Pencipta. Saya memohon agar ciptaannya bisa bermanfaat untuk yang memakainya.”

Selumbung VCO saat ini masih mengandalkan pasar lokal dan domestik. Nengah berkeinginan bisa mengekspor VCOnya atau menjualnya lewat marketplace. Hingga saat ini belum bisa ia wujudkan karena kurangnya informasi. “Saya masih buta mengenai proses pembayaran, perjanjian dengan buyer, dan undang-undang ekspor. Saya juga tidak tahu cara pengiriman produk cairan yang aman.” Nengah berharap ada pihak yang tergerak untuk membantunya.

Berkurangnya wisatawan saat ini tentu memukul penjualan Selumbung VCO. Padahal Nengah, sebagai pamangku desa berkeinginan memajukan pariwisata di Selumbung dengan paket wisata berbasis customer experience.

“Wisatawan bisa mulai dengan membuat kelapa menjadi VCO, lalu minum kopi dan makan makanan tradisional, lanjut tracking ke bukit Soksokan untuk meditasi atau menikmati pemandangan hamparan kebun kelapa dan laut lepas.” Anda bisa membantu mewujudkan mimpi ini dengan menghubungi Yayasan WeLoveWithLove yang akan menjadi jembatan bagi yang ingin memberi bantuan berupa dana, barang, maupun pengetahuan.